An Apple In The Morning
Posted in
Senin, 08 Desember 2014
Seperti biasa, setiap pagi aku duduk di depan kelas sambil sarapan sebuah apel. Orang tuaku adalah penjual buah-buahan. Setiap pagi aku harus membantu orang tuaku untuk membuka kios kecil kami. Dan karena itulah aku tidak sempat untuk sarapan setiap harinya. Pagi itu sungguh sangat dingin karena tadi malam hujan turun dengan lebat. Bau rerumputan yang basah menyegarkan hidungku. Hmm.. baunya segar sekali.
“Pagi ini sepi sekali ya?..” ehh, Rio mengagetkanku dari belakang. “tentu saja, ini kan masih pukul 6:40” jawabku sambil makan buah apel. “apel lagi, ya?” Tanya Rio basa-basi seperti tidak tahu kebiasaanku saja. Dan aku pun hanya tersenyum.
Rio bertanya kepadaku mengapa aku selalu datang ke sekolah pagi-pagi sekali dan mengapa tidak sarapan dulu di rumah, malah makan buah apel setiap pagi. Lalu aku menjelaskannya, dia bilang aku hebat. Entahlah, menurutku aku biasa-biasa saja, tentu saja membantu orang tua itu sudah kewajiban kita sebagai anak yang baik.
Meskipun aku bukan termasuk anak yang pandai di kelas, aku dapat mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik, meskipun setiap hari harus membantu orang tua. Sebenarnya ibuku adalah single mom, dua tahun yang lalu ayahku meninggal karena serangan jantung. Aku sangat bangga mempunyai ibu yang rajin. Selain harus mengurus rumah tangga juga mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Selain harus menyekolahkan aku yang ada di bangku SMP, ibu juga harus menyekolahkan adikku yang baru mulai masuk Tk.
Entah apa yang berbeda dengan hari ini, ehh… aku baru ingat. Itu kan Rio sedang duduk di depan kelas. Tunggu,… sepertinya ada buah apel di sebelahnya, dua buah. Aku langsung menyapanya dan tertawa. Untuk apa dia melakukan hal yang setiap pagi aku lakukan. Dia bilang dia ingin menemaniku sarapan. Katanya pasti kurang enak jika sarapan sendirian. Aku sungguh terharu dengan apa yang dilakukan Rio.
Selama seminggu ini kami selalu sarapan buah apel bersama di tempat yang sama dan masih buah yang sama. Dari yang dulunya kami tidak mengenal satu sama lain, kini kita lebih menegenal satu sama lain. Aku pikir dia suka aku, ehh ternyata dia hanya simpati saja kepadaku. Sedih sih, sedikit. Tetapi apa yang aku harapkan, aku hanya anak seorang penjual buah-buahan, maksudku “Seorang Ibu yang Hebat”. Itu sudah cukup bagiku.
Minggu berikutnya, sepertinya Rio tidak datang hari ini. Atau dia sudah bosan menemaniku setiap pagi. Tidak lama setelah buah apel pertamaku habis, Rio datang. “sorry telat nih,.. macet jalanan maklum hari senin” sambil tertawa kecil. Aku hanya tersenyum dan menyodorinya buah apel karena sepertinya dia lupa tidak membawa.
“Kamu tahu tidak jika buah apel itu mengandung flavoid? Yaitu zat yang berfungsi menurunkan risiko kanker.” Wah, ternyata Rio banyak belajar tentang apel. “benarkah?” meskipun aku sudah tahu. Tiba-tiba Rio termenung. Aku Tanya dia kenapa tetapi dia hanya diam. Tiba-tiba dia menceritakan kisah yang memilukan. Sebenarnya dia dulu mempunyai seorang adik. Tetapi dua bulan setalah kelahirannya, dokter memvonis adiknya terserang kanker otak. Setahun berjuang melawan kanker, akhirnya waktu itu tiba. Adiknya pergi untuk selamanya.
Aku benar-benar tidak menyangka, disetiap keceriaannya dia menyimpan sebuah kisah yang sungguh sangat memilukan, sama seperti apa yang aku alami saat ayah pergi. Tetapi kita bangkit dan berusaha mengisi hari-hari dengan semangat untuk mereka yang selalu ada di hati kita.
Sepulang sekolah Rio mengajakku untuk membeli buku. Sebenarnya aku menolak, tetapi mengingat kebaikannya setiap pagi, aku akhirnya mau. Entahlah apa yang aku rasakan sebenarnya. Sepertinya aku suka pada Rio. Tetapi aku harus menyimpan rapat-rapat rasa ini. Tentu saja harus. Dia kan sudah punya pacar. Bahkan jauh-jauh dari segalanya melibihi aku.
Setelah membeli buku kita makan siang di sebuah kedai kopi, sepertinya ini tempat favoritnya. Aku sungguh takut melihat tatap wajahnya. Entahlah aku hanya merasa bersalah saja mencintai seseorang yang baik kepadaku. Bukankah sudah cukup dia baik kepadaku, mengapa aku menginginkan lebih? Setelah makanan habis, aku langsung berpamitan dan pergi.
Aku bodoh!! Itulah kata yang pantas untukku. Entah apa yang aku pikirkan. Pasti Rio sangat bingung mengapa aku meninggalkannya begitu saja. Tidak lama aku meninggalkan kedai kopi, Rio memanggilku. Aku pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan langkahku berjalan menjauhinya.
Keesokan harinya, aku putuskan untuk sarapan (makan buah apel) di kios. Ibu bertanya mengapa aku sarapan disini, tetapi aku hanya menengadah memandang langit yang sangat cerah. Setelah selesai aku segera mencium tangan ibu dan berangkat sekolah. Sesampai di kepan kelas sebelah kelasku aku melihat Rio, dia duduk di depan kelas tempat biasa kita sarapan apel. Sepertinya dia menungguku, aku mulai berjalan perlahan merapat dinding tembok menuju ke dalam kelas agar Rio tidak melihatku.
Di kelas, kita tak saling bicara terutama aku. Saat Rio melihatku, aku berusaha mengacuhkannya, hingga akhirnya bel pulang berbunyi. Aku segera beranjak dari bangku dan berlari pulang. Sesampainya di lapangan basket, ternyata sedang ada pertandingan. Aku tahu Rio juga berlari di belakang mengejarku, saat aku berjalan di pinggir lapangan, tiba-tiba bola basket yang begitu besar dan berat menimpa kepalaku.. rasanya, saaakit sekali seperti tertimpa pohon apel saja.
Sontak kepalaku pusing tujuh keliling lalu Rio memapahku ke poliklinik. Setelah membantuku tidur di ranjang piliklinik, Rio mengambilkan aku segelas air putih lalu membantuku untuk minum. Ehh,.. setelah beberapa saat rasanya sedikit lega. Aku berterima kasih kepada Rio, dan beranjak turun dari ranjang. Belum genap kedua kakiku turun dari ranjang, Rio bertanya, “mengapa kamu menghindar dari aku?” aku tidak berani berkata dan hanya diam. Dan akhirnya, dengan sekuat keberanian, aku menjelaskan tentang perasaanku jika dia dekat denganku itu akan melukai perasaanku, jadi aku minta agar dia tidak berbuat baik lagi kepadaku. “Maaf” aku langsung pergi.
Sore harinya, seperti biasa aku membantu ibu berjualan di kios. Tiba-tiba Rio datang, “Sore tante, Erin boleh saya ajak keluar?” aku sudah berisyarat kepada ibu agar tidak membolehkanku pergi, tetapi sepertinya ibu ingin aku bersenang-senang dengan temanku. Uhh.. padahal aku sedang bad mood. Dengan terpaksa aku pergi dengan Rio. “kita kemana?” Rio tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya mengayuh sepeda dengan lebih kencang. Akhirnya kita sampai, ternyata Rio mengajakku ke taman kota yang entah mengapa sore itu sepi, sepertinya sedang mendukung suasana. Kita duduk berhadapan di bawah pohon rindang, membuat suasana hatiku yang bad mood jadi senang.
“Jadi?” “apa?” aku Tanya malah balik tanya, dasar Rio. Dia mulai memegang tanganku, “kamu tahu? Nina itu anaknya baik, cantik, ceria, periang, dan pintar. Ehmm.. kamu pasti juga tidak tahu kalau dia itu adalah sepupuku kan?” aku langsung kaget dan menatap wajahnya. “benarkah” dia tersenyum. “tapi anak-anak bilang kalian pacaran” “itu karena kita sangat dekat, jadi mereka tahunya kita pacaran” aku masih tidak percaya, dan sepertinya aku sangat-sangat bahagia mengetahui hal ini.
“Dan sepertinya aku tahu satu hal” dia menatapku dengan penuh perasaan. “apa” tanyaku penasaran, padahal aku juga sudah tahu. “Will You be Mine, please…” aku tersenyum lebar dan “Yes, I will”. Setiap pagi berikutnya, sebuah apel berdiri tegap di atas ubin depan kelas. Indah rasanya jika setiap rencana berjalan dengan baik dan seperti yang kita rencanakan, tetapi kita juga harus ingat, bahwa manusia hanya merencanakan, tetapi Tuhan yang Maha Kuasa.
Cerpen Karangan: Agus Purnamasari
Facebook: Https://www.facebook.com/lovedba4ever
Aku sayang keluargaku :)
Siapa yang salah?
Posted in
Rabu, 08 Oktober 2014
Semua hal yang dihidup ini akan
berubah dikemudian hari. Cepat atau lambat hal-hal yang kita anggap biasa akan
berubah, itu pasti Cuma masalah waktu yang menundanya. Hal yang paling tidak
kita sadari adalah perubahan sikap seseorang. Manusia mempunyai sifat dan
karakteristik yang berdeda-beda hal itu lah yang menimbulkan sebuah perbedaan. Perbedaan
tak selalu merugikan atau membuat tak nyaman tapi kadang adanya perbedaan
justru membuat suatu hal yang biasa menjadi lebih berwarna dan menyenangkan.
Begitulah hidup tak ada yang tahu
akan jadi apa hari esok. Akan ada kejadiaan apa dihari esok. Misteri hidup yang
harus kita jalani. Begitupun dengan misteri hidup yang kujalani. Apa yang aku
anggap biasa-biasa saja ternyata tak biasa dampaknya dikehidupan yang kujalani.
Perubahan. Apa yang salah dengan berubah? Memang tak salah tapi dampak yang
dirasakan terhadap orang lain yang sering diartikan sebagai perubahan yang
salah. Perubahan sikap seseorang yang membuat ku tak nyaman. Hal yang baru
pastinya tak selalu langsung sesuai dengan diri kita pasti butuh waktu
penyesuaian.
Dan perubahan sikap seseorang ini
belum nyaman didalam diriku. Dia seseorang yang spesial dihidupku, dia selalu
ada saat aku sedih dan membuat rasa sedih berganti menjadi tawa. Tapi akhir-akhir
ini dia tak lagi membuat tawa lagi. Justru kali ini dia membuat ku bersedih. Teman
memang seseorang yang sangat mempengaruhi hidup dan kepribadian dari kita. Tanpa
teman hidup yang kita jalani terasa hampa dan hambar. Karena teman lah pencipta
dari segala kebahagiaan yang kita rangkai dihidup kita. Tapi bagaimana jika
teman kita berubah? Bagi dia mungkin ini suatu hal yang wajar karena untuk
proses pendewasaan dirinya, namun disisi lain orang-orang yang berada
didekatnya merasa ada hal yang mengganjal diantara pertemanan ini.
Perubahan sikap, perubahan
perkataan, dan perubahan pergaulan. Mungkin ini dirasa hal yang biasa tapi
tidak untuk diriku. Ini seperti sebuah penghianatan? Mungkin saja. Aku yang
selalu rela berkorban hanya untuk kebahagian dia, namun dia malah mencampakan
ku. Dulu sebelum mengenal orang lain kita berhubungan baik namun setelah hadir
orang-orang baru diantara kami dia pun seperti menjauh dariku. Salahkan sikapku
jika pelan-pelan aku mulai membenci dia? salahkan aku jika aku mulai tak nyaman
dengan dia?. Dia membuat hidupku seperti selalu membutuhkan dia. Padahal? Bahkan
aku jauh lebis bisa menjalani hidup tanpa dia! Dia membuat hidupku seakan-akan
aku yang membutuhkan dia. Ada banyak manusia yang bisa dijadikan teman, bahkan
banyak yang bisa jauh lebih baik dari dia. Mungkin ungkapan “Kacang lupa dengan
kulitnya” tepat untuk dia. Dia lupa siapa yang selalu ada ketika dulu dia
sedih, sendirian. Dan sekarang setelah menemukan orang baru dia pergi sesuka
hatinya.
Aku yang salah atau dia yang
salah? Entahlah yang jelas aku mulai tak nyaman dengan sikap dan kepribadiannya
saat ini. Dan diam-diam aku membuat jarak diantara kami. Mungkin ini solusi
yang baik agar aku tak terlalu tersakiti karena sikapnya. Mungkin ini yang
dinamakan teman baginya. Selamat bersenang-senang kawan, selamat telah
menemukan sosok baru dihidupmu dan itu penggantiku. Semoga karma tak menimpa
dirimu.
Dan untuk aku? Tak apa, aku masih
mempunyai sahabat yang jauuuuhhh lebih setia dibandingkan dia. Dan waktu telah
membuktikan kesetiaan diantara kita dengan masih bersama-sama hampir 4 tahun
dan kini memasuki 5 tahun. Aku hanya bisa tersenyum melihat sikap dia yang
sudah sering aku jumpai.
Story Of My Life
Posted in
Minggu, 07 September 2014
Hai,
nama ku Danik. Nuraini Ratna Putri Wardani yang lebih akrab dipanggil Danik. Entah
bagaimana awalnya aku bisa dipanggil danik, aku tak tahu. Kata temen-temen aku,
namaku itu ibarat gerbong kereta yang panjang banget tapi yang depan kosong yang
belakang malahan penuh sesak. Iya itu ibaratan namaku. Panjang banget tapi yang
diapakai manggil cuma belakangnya. Haha lucu tapi bener juga sih.
Aku anak
pertama dari 2 bersaudara. Kelahiran 7 Februari 1998. Disebuah kota kecil di
Jawa Tengah, Purwodadi, Grobogan. Aku terlahir sebagai perempuan tapi kelakuan
ku seperti laki-laki. Entah bagaimana awalnya sifat dan kelakuan seperti
laki-laki. Tapi aku menikmati itu, karena aku lebih mudah berinteraksi dengan
teman laki-laki dan lebih cepet nyambung ketika mereka lagi cerita. Karena bagiku
ngobrol dengan laki-laki lebih asik dibandingkan dengan perempuan. Dan semua
teman-temanku bisa memahami sifat dan kelakuan ku yang kadang nakal, jail,
emosian, dan semua sifat-sifatku yang lainnya.
Aku menempuh
pendidikan dikotaku tercinta, Purwodadi. Mulai dari TK Dharma Wanita kalongan,
SD Negeri 8 Purwodadi, SMP Negeri 3 Purwodadi, dan kini aku sedang menenpuh
pendidikan di SMK Negeri 1 Purwodadi dengan mengambil jurusan Multimedia. Entah
mengapa aku bisa nyasar sekolah di SMK haha. Padahal dulu rencananya aku pingin
sekolah di SMA aja. Mungkin Tuhan tak meridhai ku, mungkin ini jalan yang
terbaik untuk hidupku.
***
Singkat
cerita, dulu saat liburan setelah aku melaksanakan Ujian Nasional teman-teman
aku udah pada sibuk mikir sekolahan yang akan dituju nantinya. Sedangkan aku
belum sama sekali memikirkan hal itu. Suatu hari teman kelasku meminta Surat
Berperilakuan baik untuk mendaftar di SMK . Iya karena aku belum memutuskan
akan sekolah dimana aku asal-asalan ikut aja bikin surah itu, padahal
sebelumnya aku belum bilang orang tua ku. Dan saat teman-teman ku sibuk
mengurusi syarat-syarat nya, aku malahan nyantai karena sebenarnya aku juga
belum tahu arah dan tujuan ku nantinya. Untungnya aku punya teman-teman yang
siap membantu. Misalnya Bintang, dia teman kelas 9 ku yang banyak berperan dan
berpengaruh ketika aku mau masuk SMK ini. Dia yang selalu nemenin aku ketika
mencari syarat-syarat meskipun aku sebenernya malas. Misalnya saat fotocopy
rapot semester 1-5 sebenernya aku malas sekali tapi karena bujukan dari dia akhirnya
aku nurut. Tak hanya Bintang, Shela pun juga membantu ku dia juga teman kelas 9
ku. Merekalah yang selalu mengingatkan ku tentang syarat-syarat ku yang kurang.
Sampai akhirnya segala persyaratan itu lengkap
Sampai
pada hari pendaftaran, teman-teman ku semua semangat datang ke sekolahan SMK
tapi sepertinya hanya aku yang tak bersemangat. Semua teman-temanku datang
pagi-pagi sekitar pukul 08.30 sudah sampai. Tapi aku? Haha jam 10.00 baru dari
rumah. Aku sebenarnya masih ragu, bimbang. Tapi ya apa salahnya dicoba dulu,
kata Ibu ku.
Sesampainya
disana aku bingung memilih jurusan apa nantinya. Akhirnya aku nurut sama Ibu
ku. Dia mengambil map jurusan AK (Akuntansi) karena dulu saudara sepupuku
(kakak) juga lulusan AK. Aku masuk SMK dia lulus. Sebenarnya aku enggak tahu AK
itu apa. Sebenarnya aku mau ambil jurusan Multimedia biar satu kelas lagi sama
Bintang tapi sepertinya Ibu tak setuju. Iya jadinya aku nurut aja.
Sampai
pada akhirnya pengumuman dan aku enggak diterima. Oh iya itu tadi pendaftaran
melalui jalur prestasi. Sedih sih tapi ya mau bagaimana lagi. Tapi aku
bersyukur aku enggak diterima di AK karena ternyata pelajarannya banyak
itung-itungan. Aaaaaa astaga, aku anti banget sama itung-itungan. Sebenarnya
nilaiku enggak jelek sih, iya cuma Matematika yang jelek, Haha. Dan hari itu
sebenarnya aku marah dengan orang tua ku terutama Ibu ku karena dia tak
mendengarkan kamauan ku. Lalu, Ibu menyuruhku untuk ikut gelombang kedua, yaitu
melalui test. Untuk menebus kesalahan Ibu, dia menyuruhku mendaftar di
Multimedia. Dan anehnya aku nurut padahal saat itu aku udah nyari syarat-syarat
pendaftaran untuk di SMA. Iya kan aku anak yang baik jadi aku nurut sama orang
tua, Haha. Setelah nurut itu aku mendaftar lagi di SMK dan mengambil jurusan
Multimedia. Ibu semangat banget, pagi-pagi udah siap padahal akunya enggak
semangat.
Dan tiba
saatnya hari dimana otak ku diuji. Oh Tuhan 2 bulan otak ku enggak aku pakai
buat mikir. Berkarat pastinya otak ku, Haha. Soal bahasa Indonesia gampang,
Bahasa Inggris gampang, Matematik, Fisika? Lingkar indah. Sumpah beneran itu
jawabanku ngarang semua. Hahaha gila kan aku. Udah biasa aku gila. Dan ketika
orang tua ku nanya gimana tapi bisa ngerjain? Enggak. Susah ya? Banget jawabku
dengan santainya. Sebenarnya otak ku enggak bodoh, beneran. Dulu aja waktu SD
aku pernah dapet biasiswa siswa berprestasi. Tapi kalau akunya udah males,
keluar deh sifat asliku. Maleslah, enggak peduli lah. Haha .
Entah emang
jalan hidupku, entah emang keberuntungan lagi dipihak ku, entah yang lain. Aku diterima
di SMK Negeri 1 Purwodadi. Seneng banget waktu keterima apalagi di Multimedia. Dan
akhirnya sampai sekarang aku menikmati sebagai siswa SMK Negeri 1 Purwodadi,
jurusan Multimedia.
***
Itu
tadi sedikit cerita mengenai perjalanan hidup ku yang konyol. Sangat konyol
malahan. Cukup sekian dulu cerita dari “Story Of My Life” kapan-kapan saya
sambung lagi deh. Haha . Terima Kasih, dan Bye~
Langganan:
Postingan (Atom)






